Konseling bagi Pelaku Kekerasan dalam Rumah Tangga

November 10, 2006

Korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sudah sering diungkap dan mengungkap. Ada banyak program penanganan yang berorientasi pada pemulihan korban, misalnya konseling dan pengembangan fasilitas pelayanan bagi perempuan dan anak korban kekerasan di rumah sakit, kepolisian, dan women’s crisis centre (WCC) sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 4 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban KDRT.

Namun, intervensi terhadap para pelaku KDRT sendiri hingga kini masih belum banyak diperhatikan. Padahal, program tersebut penting untuk dikembangkan di Indonesia.

Dari segi pendidikan pencegahan KDRT, informasi yang datang dari pelaku tentang motif dan situasi yang melatarbelakangi kasus KDRT masih terbatas. Motif dan situasi ini perlu diketahui oleh pihak-pihak yang berupaya untuk mendorong agar KDRT tidak lagi terjadi. Pemahaman dan pengetahuan memudahkan setiap pihak tersebut untuk menemukan jalan tertentu guna menghubungkan diri secara pribadi dengan setiap kejadian serta konsep dan metodologi yang khusus. Pemahaman dapat membantu penyusunan kerangka acuan yang bermakna untuk bekerja membantu para pelaku KDRT menyadari kesalahan tindakannya di masa lalu dan mendorongnya untuk ikut mencegah setiap tindakan yang mengarah pada KDRT.

Hal yang perlu dihindari adalah jebakan bahwa pemahaman akan motif dan situasi membuat pihak-pihak yang peduli tersebut mengamini kekerasan yang dilakukan. Intinya, letak pemahaman bukanlah pada tindakan KDRT pelaku, namun pada situasi yang melatarbelakanginya sehingga bisa mendorong munculnya kesadaran pada pelaku. Banyak individu seringkali enggan untuk berurusan dengan isu KDRT, tetapi mengabaikan KDRT adalah sama saja berkolusi dnegan para pelaku dan bukan merupakan suatu aksi yang netral.

Program konseling dan intervensi kepada pelaku tidak banyak dikenal di Indonesia. Padahal, intervensi ini penting diterapkan mengingat sebuah kekerasan terjadi karena tindakan yang dikendalikan oleh pelaku. Terobosan baru yang diatur dalam UU No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT adalah adanya pengaturan tentang program konseling bagi pelaku KDRT, yaitu pada pasal 50. Pelaku yang terbukti melakukan KDRT diwajibkan ikut program konseling supaya ada perubahan perilaku. Hakim pengadilan juga dapat menjatuhkan hukuman pidana tambahan bagi pelaku berupa perintah untuk mengikuti program konseling di bawah pengawasan lembaga tertentu.

Dengan metode konseling ini dapat diperoleh informasi berharga, terutama:

  1. Bagaimana informasi tersebut dapat mendorong si pelaku (dan juga setiap laki-laki sebagai pelaku potensial) untuk lebih sadar dan mengembangkan karakter penghormatan terhadap situasi yang anti-kekerasan, terutama anti-kekerasan terhadap perempuan.
  2. Bagaimana informasi tersebut menjadi dasar untuk mengembangkan berbagai kegiatan atau tindakan yang dapat mencegah munculnya kasus KDRT baru.

Mitra Perempuan WCC dengan dukungan The Ford Foundation sejak tahun 2006 mulai menyusun Modul Konseling bagi Pelaku KDRT. Serangkaian lokakarya dengan mengundang para praktisi hukum, sosial , dan WCC sudah dilakukan. Dilanjutkan dengan pembentukan core group (terdiri dari dr. Suryo Dharmono, Sp.KJ, Dra. Purnianti, Drs. Abdul Hakim, Drs. Priyadi, Bc.IP, M.Si, dan Rita Serena Kolibonso, SH, LL.M) sebagai penyusun modul dan advisory team (terdiri dari Prof. Saparinah Sadli, Prof. Irwanto, Dra. Joyce Djaelani Gordon, dan David Gordon) sebagai penasehat untuk mengonsultasikan modul tersebut.

Modul Konseling bagi Pelaku KDRT ini pada tanggal 16-18 Oktober 2008 sudah dilatihkan kepada sejumlah laki-laki petugas pemsayarakatan Badan Pemasyarakatan (BAPAS) yang memang dipersiapkan menjadi konselor pengguna modul ini. Oleh para konselor terlatih, modul ini telah diterapkan kepada 18 orang narapidana dan tahanan laki-laki pelaku KDRT di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) dan Rumah Tahanan (RUTAN) di wilayah DKI Jakarta pada kurun November 2008 hingga awal Januari 2009.

Sepuluh sesi konseling yang tercantum dalam Modul Konseling Pelaku KDRT ini meliputi:
1.    Sesi Assessment – Perkenalan dan Membangun Relasi
2.    Sesi Assessment dengan Kuesioner
3.    Sesi Kesetaraan Perempuan dan Laki-Laki
4.    Sesi KDRT
5.    Sesi Membangun Motivasi Perubahan Perilaku Diri
6.    Sesi Mengelola Pikiran dan Emosi Negatif
7.    Sesi Mengelola Konflik
8.    Sesi Mengelola Amarah
9.    Sesi Teknik Relaksasi
10.    Sesi Ritual Melepas Pola Perilaku Kekerasan

Harapannya, modul ini dapat membantu dan mendorong kerjasama antar-institusi dalam pengembangan program intervensi bagi pelaku KDRT di masyarakat dan khususnya dapat diintegrasikan dalam pembinaan narapidana pelaku KDRT di LAPAS sebagai bagian dari sstem peradilan pidana Indonesia.

Jika Anda ingin membaca atau mendapatkan Modul Konseling bagi Pelaku KDRT ini, silakan menghubungi kantor Mitra Perempuan                                                               Jalan Tebet Barat Dalam IVB No. 23, Jakarta Selatan 12810, Telepon 021-83790010 Pelayanan  Senin – Sabtu: jam 08.00 – 17.00 WIB.

Comments are closed.